Cerita n’ Kisah

22 Juli 2011 at 14:04 (Tak Berkategori)

Cinta tdk cukup utk menyatukan dua manusia. Tatkala jalan telah berbeda tdk kan mungkin mereka saling bersama. Namun cahaya keimanan akan mempertemukan kembali yg telah terpisahkan sekian lama. Tersebutlah kisah tentang putri pemimpin para nabi. Terlahir dari rahim ibunda seorang wanita bangsawan Quraisy Khadijah bintu Khuwailid bin Asad bin ‘Abdil ‘Uzza bin Qushay Al-Qurasyiyyah radhiallahu ‘anhu saat ayah memasuki usia tiga puluh tahun.

Dia bernama Zainab radhiallahu‘anha bintu Muhammad bin ‘Abdillah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Semasa hidup ibu sang putri yg menawan ini disunting oleh seorang pemuda Abul ‘Ash bin Ar-Rabi’ bin ‘Abdil ‘Uzza bin ‘Abdisy Syams bin ‘Abdi Manaf bin Qushay Al-Qurasyi namanya. Dia putra Halah bintu Khuwailid saudari perempuan Khadijah. Ketika itu Khadijah menghadiahkan seuntai kalung utk pengantin putrinya. Dari pernikahan itu lahir Umamah dan ‘Ali dua putra-putri Abul ‘Ash.

Tatkala cahaya Islam merebak Allah membuka hati Zainab utk menyambutnya. Namun Abul ‘Ash bin Ar-Rabi’ masih berada di atas agama nenek moyangnya. Dua insan di atas dua jalan yg berbeda orang2 musyrik pun mendesak Abul ‘Ash utk menceraikan Zainab namun Abul ‘Ash dgn tegas menolak mentah-mentah permintaan mereka. Akan tetapi Zainab radhiallahu ‘anha masih pula tertahan utk bertolak ke bumi hijrah. Ramadhan tahun kedua setelah hijrah terukir peristiwa Badr, dlm pertempuran itu terbunuh tujuh puluh orang dari pihak musyrikin dan tertawan tujuh puluh orang dari mereka. Di antara tawanan itu ada Abul ‘Ash bin Ar-Rabi’.

Penduduk Makkah pun mengirim tebusan utk membebaskan para tawanan. Terselip di antara harta tebusan itu seuntai kalung milik Zainab utk kebebasan suaminya. Ketika melihat kalung itu Rasulullah terkenang pada Khadijah yg telah tiada. Betapa terharu hati beliau mengingat putri yg dicintainya. Lalu beliau berkata pada para shahabat “Apabila kalian bersedia membebaskan tawanan yg ditebus oleh Zainab dan mengembalikan harta tebusan yg dia berikan lakukanlah hal itu.” Para sahabat pun menjawab “Baiklah wahai Rasulullah!” Kemudian mereka lepaskan Abul ‘Ash bin Ar-Rabi’ dan mengembalikan seuntai kalung Zainab yg dijadikan harta tebusan itu.

Ketika itu Rasulullah meminta Abul ‘Ash utk berjanji agar membiarkan Zainab pergi meninggalkan negeri Makkah menuju Madinah. Kemudian Rasulullah mengutus Zaid bin Haritsah bersama salah seorang Anshar sembari berkata “Pergilah kalian ke perkampungan Ya’juj sampai bertemu dgn Zainab lalu bawalah dia kemari.” Berpisahlah Zainab di atas jalan Islam meninggalkan suami yg masih berkubang dlm kesyirikan.

Menjelang peristiwa Fathu Makkah Abul ‘Ash keluar dari negeri Makkah bersama rombongan dagang membawa barang-barang dagangan milik penduduk Makkah menuju Syam. dlm perjalanan rombongan itu bertemu dgn seratus tujuhpuluh orang pasukan Zaid bin Haritsah yg diutus oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam utk menghadang rombongan dagang itu. Pasukan muslimin pun berhasil menawan mereka dan mengambil harta yg dibawa oleh rombongan musyrikin itu namun Abul ‘Ash berhasil meloloskan diri. Ketika gelap malam merambah Abul ‘Ash dgn diam-diam menemui istri Zainab utk meminta perlindungan.

Subuh tiba. Rasulullah dan para sahabat berdiri menunaikan Shalat Shubuh. Saat itu Zainab radhiallahu ‘anha berseru dgn suara lantang “Wahai kaum muslimin sesungguh aku telah memberikan perlindungan kepada Abul ‘Ash bin Ar-Rabi’!” Usai shalat Rasulullah menghadap pada para shahabat sembari berta “Kalian mendengar apa yg aku dengar?” “Ya wahai Rasulullah.” Beliau berkata lagi “Sesungguhnya aku tdk mengetahui apa pun sampai aku mendengar apa yg baru saja kalian dengar.” Kemudian beliau menemui putri dan berpesan “Wahai putriku muliakanlah dia namun jangan sekali-kali dia mendekatimu krn dirimu tdk halal baginya.” Zainab menjawab “Sesungguh dia datang semata utk mencari hartanya.”

Setelah itu Rasulullah mengumpulkan pasukan Zaid bin Haritsah dan berkata pada mereka “Sesungguh Abul ‘Ash termasuk keluarga kami sebagaimana kalian ketahui dan kalian telah mengambil harta sebagai fai’ yg diberikan Allah kepada kalian. Namun aku ingin kalian berbuat kebaikan dan mengembalikan harta itu kepadanya. Akan tetapi kalau kalian enggan mk kalian lbh berhak atas harta itu.” Para sahabat menjawab “Wahai Rasulullah kami akan kembalikan harta itu padanya.” Seluruh harta yg dibawa Abul ‘Ash kembali ke tangan dan tdk berkurang sedikit pun. Segera dia membawa harta itu kembali ke Makkah dan mengembalikan tiap harta titipan penduduk Makkah pada pemiliknya. Lalu dia berta “Apakah masih ada di antara kalian yg belum mengambil kembali hartanya?” Mereka menjawab “Semoga Allah memberikan balasan yg baik padamu.

Engkau benar-benar seorang yg mulia dan memenuhi janji.” Abul ‘Ash pun kemudian menegaskan “Sesungguh aku bersaksi bahwa tdk ada sesembahan yg berhak disembah kecuali Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adl hamba dan utusan-Nya! Demi Allah tdk ada yg menahanku utk masuk Islam saat itu kecuali aku khawatir kalian menyangka bahwa aku memakan harta kalian. Sekarang setelah Allah tunaikan harta itu kepada kalian masing-masing aku masuk Islam.” Abul ‘Ash bergegas meninggalkan Makkah hingga bertemu dgn Rasulullah dlm keadaan Islam. Enam tahun bukanlah rentang waktu yg sebentar. Akhir penantian yg sekian lama pun menjelang. Rasulullah mengembalikan putri tercinta Zainab kepada suami Abul ‘Ash bin Ar- Rabi’ dgn nikah yg dulu dan tanpa menunaikan kembali maharnya. Dua insan kini bersama meniti jalan mereka Namun Allah telah menetapkan taqdir-Nya. tdk lama setelah pertemuan itu Zainab bintu Rasulullah kembali ke hadapan Rabb- pada tahun kedelapan setelah hijrah meninggalkan kekasih utk selamanya.

Di antara para shahabiyyah yg memandikan jenazah ada Ummu ‘Athiyyah Al-Anshariyah. Dari terpapar kisah dimandikan jenazah Zainab sesuai perintah Rasulullah dgn guyuran air bercampur daun bidara. Seusai itu rambut Zainab dijalin menjadi tiga jalinan. Jenazah dibungkus dgn kain Rasulullah. Putri pemimpin para nabi itu telah pergi Zainab semoga Allah meridhainya. Wallahu ta’ala a’lamu bish-shawab.

Sebenar menyebut-nyebut seseorang dgn sesuatu yg tdk disukai adl haram. Yaitu jika semua itu hanya dilandasi keinginan utk mencela meremehkan atau menjatuhkan. Namun bila di dlm penyebutan tersebut terkandung manfaat atau maslahat yg besar bagi kaum muslimin pada umum atau pada sebagian orang khusus mk penyebutan seperti ini bukanlah sesuatu yg haram bahkan sangat dianjurkan. Asy-Syaikh Rabi’ bin Hadi Al-Madkhali hafizhahullah ketika mengomentari uraian Al-Hafizh Ibnu Rajab rahimahullah menegaskan: “Bahkan hal itu wajib krn Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mewajibkan utk memberi keterangan bukan sekedar sunnah semata.”

Sebagian kaum muslimin menganggap jarh terhadap suatu pemikiran buku atau individu tertentu serta mentahdzir agar dijauhi dan ditinggalkan orang adl perbuatan dzalim tdk adil dan tdk amanah. Demikian kata sebagian mereka. Dengan alasan tersebut ketika ada tokoh dari ahli bid’ah yg dibeberkan kebid’ahan kesesatan pemikiran baik yg diucapkan maupun yg dituangkan dlm tulisan mereka anggap orang yg menjelaskan kesesatan dan penyimpangan tersebut sebagai penghujat zalim mulut kotor dan sebagainya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: