Sebuah Pilihan

14 Agustus 2011 at 16:33 (Tak Berkategori)

Ketimbang tersinggung dengan ejekan dan kritikan, akan lebih baik jika kita malah mengambil manfaatnya. Kadang ejekan dari musuh lebih jujur dari pada pujian seorang teman. Inilah kata bijak yg harus kita renungkan. Sikap yang paling utama dalam menghadapi celaan ataupun perbuatan seseorang adalah di diamkan atau di do’akan agar dia diberi kebaikan. Ketika kita berbuat kebaikan kepada
seseorang itu berarti kita telah berbuat baik pada diri kita sendiri.
Sikap kita merupakan wujud kecintaan kita pada diri kita sendiri. Kita marah ataupun membalas perbuatan seseorang yang telah menyakiti hati kita merupakan salah satu tanda bahwa kita kurang mencintai diri kita sendiri.

Dengan hidup di atas garis, kita tidak akan mandeg dengan alasan kondisi atau apa pun yang terjadi pada diri kita. Hidup kita akan lebih hidup. Kita akan bergairah dan memiliki determinasi yang tinggi dalam mencapai cita-cita kita. Orang yang biasa berdalih tidak akan mengambil pelajaran dari kesalahan dan kegagalan, karna dia sudah siap untuk berdalih lagi. Tidak akan ada keberhasilan tanpa tindakan. Tidak akan tindakan tanpa keberanian. Jadi tidak akan keberhasilan tanpa keberanian. Sukses sejalan dengan keberanian. Jika wawasan kita akan semakin luas, kita akan menemukan jalan-jalan baru untuk meraih sukses.

Insya Allah dalam waktu yang tidak lama ketakutan pada diri kita akan hilang. Jangan takut menambah saingan dengan membina orang lain, rezeki Allah begitu melimpah di bumi ini. Dan Allah telah menetapkan rezeki bagi setiap makhluk-Nya bahkan hewan melata sekalipun. Ketakutan-ketakutan akan membatasi Anda untuk melakukan berbagai hal yang sangat berarti bagi kita. Mulailah sekarang juga untuk melangkah, menuju tujuan kita meskipun selangkah demi selangkah tetapi akan membawa kita ke tujuan, asal arah yang Anda tempuh benar.

Mimpi memang sangat perlu untuk memelihara gairah hidup dan kemajuan, tetapi mimpi tanpa disertai tindakan hanyalah seperti pepesan kosong belaka. Aplikasi atau tindakanlah yang membuat orang sukses, tentu saja setelah mimpi yang tinggi dan ilmu yang mencukupi. Bagaimanapun mimpi yang bernilai tinggi otomatis memerlukan pengorbanan yang tinggi pula dan kerja yang terfokus. Diam tidak pasti, bertindak tidak pasti, kalau begitu mendingan kita bertindak.

Semakin berkerja keras kita, semakin beruntung kita. Apalagi jika niat kita lurus, tidak ada kerja keras kita yang sia-sia. Allah Mahatahu, sehingga pasti akan tahu apa yang terbaik bagi kita, termasuk mungkin kita harus lebih banyak berusaha. Sedetik waktu terlewat, tidak akan pernah bisa kembali. Maka jangan sia-siakan waktu yang kita miliki.

Percayalah…
Kuatkanlah…
Berdirilah…
Berjalanlah…

Bila kita memulakan sesuatu…
Kadang-kadang kita lupa letakkan niat
Kadang-kadang kita lupa baca Bismillah
Sebab itu bila ada masalah,
Kita cepat menyerah…
Bila kita berniat…
Kadang-kadang kita lupa letakkan usaha,
Kadang-kadang kita menunggu disuruh baru hendak mengolah,
Sebab tu bila kerja tak menjadi,
Kita cepat angkat kaki…
Bila kita berusaha…
Kadang-kadang lupa pula hendak berdoa,
Siang malam kerah tenaga dan masa…
Sebab tu bila kerja masih tak sempurna,
Kita mudah putus asa…
Bila kita berniat, berusaha dan berdoa…
Kadang-kadang kita lupa pula untuk bertawakkal pada Yang Esa.
Bertawakal pun pada bicara tapi di hati masih buta.
Sebab tu bila dilanda masalah,
Kita marah tak tentu hala…
Bila kita berniat, berusaha, berdoa dan bertawakal…
Kadang-kadang kita tetap alpa,
tuk sebut Alhamdulillah pun payah,
Berdoa pun sekali sekala,
Bersyukur sekejap cuma..
Sebab tu bila kita berjaya,
Allah datangkan ujian dan musibah…
Supaya kita ingat dan kembali ke jalan ridhaNya,
Tetapi kita kecewa sampai mencari jalan mudah..
Membenci diri memusuhi nadi.
Sedangkan…
Kita manusia ciptaanNya,
Bernafas di udara yang sama,
Bila lemah Allah itu slalu ada,
Bila derita Allah itu slalu bersama,
Senang, susah, sedih, gembira…
Allah takkan lupa pada langkah kita.
Tapi sememangnya lahiriah kita,
Kadang-kadang lebih suka dipuji,
Sebab itu kita jarang memuji Yang Maha Terpuji,
Kadang-kadang lebih suka dicintai,
Sebab itu kita lupa menyintai Yang Maha Menyintai,
Kadang-kadang kita lebih suka menyendiri,
Tapi lupa Allah sedang memerhati…
Sebab itu teruskanlah bermuhasabah pada pencipta,
Karena itu..
Pada masalah haruslah bersabar
Pada ujian haruslah tabah
Pada kegagalan haruslah usaha, doa dan tawakkal
Pada kejayaan haruslah usaha, doa dan tawakkal..
Sama tetapi tak serupa,
Karna kejayaan di dunia bukan pengukur kejayaan di sana
Kekayaan harta di dunia bukan jaminan kebahagiaan di sana
Kesusahan dan penderitaan di dunia belum tentu bersambung di sana
Kealpaan kita di dunia pasti menjadi kesakitan kita di sana…
Di sana itulah yang perlu kita kejar,
Agar dunia mengikuti dengan ridhaNya…
Di sana,
Akhirat yang pasti…
Syurga yang terindah,
Atau
Neraka yang menyala!

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Arti Sebuah Kecantikan

13 Agustus 2011 at 15:55 (Tak Berkategori)

Menjadi cantik, siapa sih yang tidak mau…setiap cewek menginginkan dirinya diberikan anugerah kecantikan yang sempurna dari Tuhan, cantik dan menjadi perhatian banyak orang, terkenal dan bangga dengan dirinya sendiri. Menjadi cantik apakah selalu diukur dengan keindahan lahiriah saja? Masing-masing orang memiliki jawaban yang berbeda dan itu kembali pada sejauh mana orang tersebut menilai arti sebuah kecantikan. Paling sering kita sekarang mendengan Inner beauty yaitu kecantikan yang berasal dari dalam. Sudah jelas bahwa kecantikan memang bukan saja melihat secantik apa wajah kita, seindah apa tubuh kita, tapi kecantikan dari dalam dapat mendongkrak sisi terburuk yang
kita miliki.

Membandingkan diri kita dengan supermodel..wah jauh sekali,..mereka terlihat sangat cantik dalam suasana apapun tapi kita..mengapa kita selalu merasa jelek dibandingkan orang lain…ubahlah pandangan itu dalam diri kita karena tak ada satupun mahluk Tuhan diciptakan jelek..semuanya cantik, tergantung darimana kita memandangnya, okelah dari sudut lahiriah supermodel adalah mahluk yang cantik tapi jauh dilubuk hati yang terdalam kita adalah yang paling cantik.Bentuklah kecantikan sesuatu dengan apa yang kamu inginkan, kalaupun memang benar kamu merasa tidak cantik tapi buatlah diri kamu cantik dengan selalu menjadi orang serasi dalam mempadu-padankan busana, menata diri kamu sebaik mungkin dan jadilah orang yang menyenangkan bagi setiap lingkungan yang kamu datangi.

Mengubah pandangan mengenai Arti cantik yang sesungguhnya
Jangan menilai kecantikan dari keindahan lahiriah saja, ubahlah pandangan kamu mengenai arti kecantikan kamu, kecantikan tidak dapat dinilai dari satu sudut pandang saja melainkan dari berbagai segi yang satu sama lain saling mendukung, kecantikan adalah perpaduan dari keindahan lahiriah dan batiniah, keindahan lahiriah tanpa keindahan
batiniah akan terasa hambar tetapi keindahan Batiniah akan memancarkan keindahan lahiriah. Kecantikan lahiriah akan terasa hambar jika tidak diseimbangi oleh kecantikan batiniah.

Semakin kita kehilangan suatu kepercayaan diri, maka akan akan semakin sulit kita memutuskan yang terbaik yang harus kita lakukan pada diri kita sendiri. Keragu-raguan itu akan pula menyulitkan kita untuk mengaktualisasikan siapa diri kita sebenarnya. Bisa jadi kita yang seharusnya menjadi lebih baik dari sekarang, tetap pada posisi yang sama. Tidak bergerak maju. Cantik merupakan satu yang terpancar dari kepercayaan diri yang telah kita bangun. Mungkin keadaan jasmani kita tidak semolek selebritis, tapi kita pandai memanfaatkan kelebihan yang kita miliki untuk menghalangi orang memandang kekurangan kita, melainkan hanya melihat kelebihan kita saja. Kita begitu percaya diri dengan apa pun yang kita miliki.

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Nabi Ayyub Lulus Ujian Allah SWT

10 Agustus 2011 at 15:49 (Tak Berkategori)

Kata-kata isteri Ayyub itu menimbulkan harapan bagi Iblis bahawa ia kali ini akan berhasil maka diingatkanlah isteri Ayyub akan masa mudanya di mana ia hidup dengan suaminya dalam keadaan sehat, bahagia dan makmur dan dibawakannyalah kenang-kenangan dan kemesraan. Kemudian keluarlah Iblis dari rumah Ayyub meninggalkan isteri Ayyub duduk termenung seorang diri, mengenangkan masa lampaunya, masa kejayaan suaminya dan kesejahteraan hidupnya, membanding-bandingkannya dengan masa di mana berbagai penderitaan dan musibah dialaminya, yang dimulai dengan musnahnya kekayaan dan harta-benda, disusul dengan kematian puteranya, dan kemudian yang terakhirnya diikuti oleh penyakit suaminya yang parah yang sangat menjemukan itu. Isteri Ayyub merasa kesepian berada di rumah sendirian bersama suaminya yang terbaring sakit, tiada sahabat tiada kerabat, tiada handai, tiada taulan, semua menjauhi mereka karena khawatir kejangkitan penyakit kulit Ayyub yang menular dan menjijikkan itu.

Seraya menarik nafas panjang datanglah isteri Ayyub mendekati suaminya yang sedang menderita kesakitan dan berbisik-bisik kepadanya berkata: “Wahai sayangku, sampai bilakah engkau tersiksa oleh Tuhanmu ini? Di manakah kekayaanmu, putera-puteramu, sahabat-sahabatmu dan kawan-kawan terdekatmu? Oh, alangkah syahdunya masa lampau kami, usia muda, badan sehat, sarana kebahagiaan dan kesejahteraan hidup tersedia dikelilingi oleh keluarga dan terulang kembali masa yang manis itu? Mohonlah wahai Ayyub dari Tuhanmu, agar kami dibebaskan dari segala penderitaan dan musibah yang berpanjangan ini.”

Berkata Ayyub menjawab keluhan isterinya: “Wahai isteriku yang kusayangi, engkau menangisi kebahagiaan dan kesejahteraan masa yang lalu, menangisi anak-anak kita yang telah mati diambil oleh Allah dan engkau minta aku memohon kepada Allah agar kami dibebaskan dari kesengsaraan dan penderitaan yang kami alami masa kini. Aku hendak bertanya kepadamu, berapa lama kami tidak menikmati masa hidup yang mewah, makmur dan sejahtera itu?”. “Delapan puluh tahun”, jawab isteri Ayyub. “Lalu berapa lama kami telah hidup dalam penderitaan ini?” tanya lagi Ayyub. “Tujuh tahun”, jawab si isteri.

“Aku malu”, Ayyub melanjutkan jawabannya,” memohon dari Allah membebaskan kami dari sengsaraan dan penderitaan yang telah kami alami belum sepanjang masa kejayaan yang telah Allah kurniakan kepada kami. Kiranya engkau telah termakan hasutan dan bujukan syaitan, sehingga mulai menipis imanmu dan berkesal hati menerima taqdir dan hukum Allah. Tunggulah ganjaranmu kelak jika aku telah sembuh dari penyakitku dan kekuatan badanku pulih kembali. Aku akan mencambukmu seratus kali. Dan sejak detik ini aku haramkan diriku makan dan minum dari tanganmu atau menyuruh engkau melakukan sesuatu untukku. Tinggalkanlah aku seorang diri di tempat ini sampai Allah menentukan taqdir-Nya.”

Setelah ditinggalkan oleh isterinya yang diusir, maka Nabi Ayyub tinggal seorang diri di rumah, tiada sanak saudara, tiada anak dan tiada isteri. Ia bermunajat kepada Allah dengan sepenuh hati memohon rahmat dan kasih sayang-Nya. Ia berdoa: “Wahai Tuhanku, aku telah diganggu oleh syaitan dengan kepayahan dan kesusahan serta siksaan dan Engkaulah wahai Tuhan Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang.”
Allah menerima doa Nabi Ayyub yang telah mencapai puncak kesabaran dan keteguhan iman serta berhasil memenangkan perjuangannya melawan hasutan dan bujukan Iblis. Allah mewahyukan firman kepadanya: “Hantamkanlah kakimu ke tanah. Dari situ air akan memancur dan dengan air itu engkau akan sembuh dari semua penyakitmu dan akan pulih kembali kesehatan dan kekuatan badanmu jika engkau gunakannya untuk minum dan mandimu.”

Dengan izin Allah setelah dilaksanakan petunjuk Illahi itu, sembuhlah segera Nabi Ayyub dari penyakitnya, semua luka-luka kulitnya menjadi kering dan segala rasa pedih hilang, seolah-olah tidak pernah terasa olehnya. Ia bahkan kembali menampakkan lebih sehat dan lebih kuat daripada sebelum ia menderita. Dalam pada itu isterinya yang telah diusir dan meninggalkan dia seorang diri di tempat tinggalnya yang terasing, jauh dari kota, jauh dari keramaian kota, merasa tidak sampai hati lebih lama berada jauh dari suaminya, namun ia hampir tidak mengenalnya kembali, karena bukanlah Ayyub yang ditinggalkan sakit itu yang berada didepannya, tetapi Ayyub yang muda belia, segar bugar, sehat afiat seakan-akan tidak pernah sakit dan menderita. Ia segera memeluk suaminya seraya bersyukur kepada Allah yang telah memberikan rahmat dan kurnia-Nya mengembalikan kesehatan suaminya bahkan lebih baik daripada keadaan asalnya.

Nabi Ayyub telah bersumpah sewaktu ia mengusir isterinya akan mencambuknya seratus kali bila ia sudah sembuh. Ia merasa wajib melaksanakan sumpahnya itu, namun merasa kasihan kepada isterinya yang sudah menunjukkan kesetiaannya di dalam segala duka dan deritanya. Ia bingung, hatinya terumbang-ambingkan oleh dua perasaan, ia merasa berwajiban melaksanakan sumpahnya, tetapi isterinya yang setia dan bakti itu tidak patut, kata hatinya, menjalani hukuman yang seberat itu. Akhirnya Allah memberi jalan keluar baginya dengan firman-Nya: “Hai Ayyub, ambillah dengan tanganmu seikat rumput dan cambuklah isterimu dengan rumput itu seratus kali sesuai dengan sesuai dengan sumpahmu, sehingga dengan demikian tertebuslah sumpahmu.”

Nabi Ayyub dipilih oleh Allah sebagai nabi dan teladan yang baik bagi hamba-hamba_Nya dalam hal kesabaran dan keteguhan iman sehingga kini nama Ayyub disebut orang sebagai simbul kesabaran. Orang menyatakan , si Fulan memiliki kesabaran Ayyub dan sebagainya. Dan Allah telah membalas kesabaran dan keteguhan iman Ayyub bukan saja dengan memulihkan kembali kesehatan badannya dan kekuatan fizikalnya kepada keadaan seperti masa mudanya, bahkan dikembalikan pula kebesaran duniawinya dan kekayaan harta-bendanya dengan berlipat gandanya. Juga kepadanya dikurniakan lagi putera-putera sebanyak yang telah hilang dan mati dalam musibah yang ia telah alami. Demikianlah rahmat Tuhan dan kurnia-Nya kepada Nabi Ayyub yang telah berhasil melalui masa ujian yang berat dengan penuh sabar, tawakkal dan beriman kepada Allah.

Kisah Ayyub di atas dapat dibaca dalam Al-Quran surah Shaad ayat 41 sehingga ayat 44 dan surah Al-Anbiaa’ ayat 83 dan 84

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Maulana Malik Ibrahim

9 Agustus 2011 at 09:38 (Tak Berkategori)

Senja hampir bergulir di Desa Gapuro, Gresik, Jawa Timur, menjelang bulan Ramadhan itu. Tak ada angin. Awan seperti berhenti berarak. Batu pualam berukir kaligrafi indah itu terpacak bagaikan saksi sejarah. Itulah nisan makam almarhum Syekh Maulana Malik Ibrahim, yang wafat pada 12 Rabiul Awal 822 Hijriah, atau 8 April 1419.

Di latar nisan itu tersurat ayat suci Al-Quran: surat Ali Imran 185, Ar-Rahman 26-27, At-Taubah 21-22, dan Ayat Kursi. Ada juga rangkaian kata pujian dalam bahasa Arab bagi Malik Ibrahim: ”Ia guru yang dibanggakan para pejabat, tempat para sultan dan menteri meminta nasihat. Orang yang santun dan murah hati terhadap fakir miskin. Orang yang berbahagia karena mati syahid, tersanjung dalam bidang pemerintahan dan agama.”

Demikian terjemahan bebas inskripsi di nisan pualam makam berbangun lengkung menyerupai kubah itu. Dalam beberapa sumber sejarah tradisional, Syekh Maulana Malik Ibrahim disebut sebagai anggota Wali Songo, tokoh sentral penyebar agama Islam di Pulau Jawa. Sejarawan G.W.J. Drewes menegaskan, Maulana Malik Ibrahim adalah tokoh yang pertama-tama dipandang sebagai wali di antara para wali.

”Ia seorang mubalig paling awal,” tulis Drewes dalam bukunya, New Light on the Coming of Islam in Indonesia. Gelar Syekh dan Maulana, yang melekat di depan nama Malik Ibrahim, menurut sejarawan Hoessein Djajadiningrat, membuktikan bahwa ia ulama besar. Gelar tersebut hanya diperuntukkan bagi tokoh muslim yang punya derajat tinggi.

Sekalipun Malik Ibrahim tidak termasuk dalam jajaran Wali Songo, masih menurut Hoessein, jelas dia adalah seorang wali. Adapun istilah Wali Songo berasal dari kata ”wali” dan ‘’songo”. Kata wali berasal dari bahasa Arab, waliyullah, orang yang dicintai Allah –alias kekasih Tuhan. Kata songo berasal dari bahasa Jawa, yang berarti sembilan.

Ada wali yang termasuk anggota Wali Songo –yang terdiri dari sembilan orang– dan ada wali yang bukan anggota ”dewan” Wali Songo. Konsep ”dewan wali” berjumlah sembilan ini diduga diadopsi dari paham Hindu-Jawa yang berkembang sebelum masuknya Islam. Wali Songo seakan-akan dianalogikan dengan sembilan dewa yang bertahta di sembilan penjuru mata angin.

Dewa Kuwera bertahta di utara, Isana di timur laut. Indra di timur, Agni di tenggara, dan Kama di selatan. Dewa Surya berkedudukan di barat daya, Yama di barat, Bayu, atawa Nayu, di barat laut, dan Siwa di tengah. Para wali diakui sebagai manusia yang dekat dengan Tuhan. Mereka ulama besar yang menyemaikan benih Islam di Jawadwipa.

Figur para wali –sebagaimana dikisahkan dalam babad dan ”kepustakaan” tutur– selalu dihubungkan dengan kekuatan gaib yang dahsyat. Namun, hingga sekarang, belum tercapai ”kesepakatan” tetang siapa saja gerangan Wali nan Sembilan itu. Terdapat beragam-ragam pendapat, masing-masing dengan alasannya sendiri.

Pada umumnya orang berpendapat, yang terhisab ke dalam Wali Songo adalah: Syekh Maulana Malik Ibrahim alias Sunan Gresik, Raden Rakhmad alias Sunan Ampel, Raden Paku alias Sunan Giri, Syarif Hidayatullah alias Sunan Gunung Jati, Raden Maulana Makdum Ibrahim alias Sunan Bonang, Syarifuddin alias Sunan Drajat, Jafar Sodiq alias Sunan Kudus, Raden Syahid alias Sunan Kalijaga, dan Raden Umar Sayid alias Sunan Muria.

Namun, komposisi Wali nan Sembilan ini juga punya banyak versi. Prof. Soekmono dalam bukunya, Pengantar Sejarah Kebudayaan Indonesia, Jilid III, tidak memasukkan Syekh Maulana Malik Ibrahim dalam jajaran Wali Songo. Guru besar sejarah kebudayaan Universitas Indonesia itu justru menempatkan Syekh Siti Jenar, alias Syekh Lemah Abang, sebagai anggota Wali Songo.

Sayang, Soekmono tak menyodorkan argumentasi mengapa Maulana Malik Ibrahim tidak termasuk Wali Songo. Ia hanya menyebut Syekh Siti Jenar sebagai tokoh sangat populer. Siti Jenar dihukum mati oleh Wali Songo, karena dinilai menyebarkan ajaran sesat tentang jubuhing kawulo Gusti (bersatunya hamba dengan Tuhannya), yang dapat mengguncang iman orang dan menggoyahkan syariat Islam.

Selain itu, Wali Songo juga ditafsirkan sebagai sebuah lembaga, atau dewan dakwah. Istilah sembilan dirujukkan dengan sembilan fungsi koordinatif dalam lembaga dakwah itu. Teori ini diuraikan dalam buku Kisah Wali Songo; Para Penyebar Agama Islam di Tanah Jawa karya Asnan Wahyudi dan Abu Khalid.

Kedua penulis itu merujuk pada kitab Kanz Al-’ulum karya Ibn Bathuthah. Mereka menjelaskan, sebagai lembaga dewan dakwah, Wali Songo paling tidak mengalami lima kali pergantian anggota. Pada periode awal, anggotanya terdiri dari Maulana Malik Ibrahim, Ishaq, Ahmad Jumad Al-Kubra, Muhammad Al-Magribi, Malik Israil, Muhammad Al-Akbar, Maulana Hasanuddin, Aliyuddin, dan Syekh Subakir.

Pada periode kedua, Raden Rakhmad (Sunan Ampel), Sunan Kudus, Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati), dan Sunan Bonang masuk menggantikan Maulana Malik Ibrahim, Malik Israil, Ali Akbar, dan Maulana Hasanuddin –yang wafat. Pada periode ketiga, masuk Sunan Giri, menggantikan Ishaq yang pindah ke Pasai, Aceh, dan Sunan Kalijaga menggantikan Syekh Subakir yang pulang ke Persia.

Pada periode keempat, Raden Patah dan Fatullah Khan masuk jajaran Wali Songo. Kedua tokoh ini menggantikan Ahmad Jumad Al-Kubra dan Muhammad Al-Magribi yang wafat. Sunan Muria menduduki lembaga Wali Songo dalam periode terakhir. Ia menggantikan Raden Patah, yang naik tahta sebagai Raja Demak Bintoro yang pertama.

Analisis tersebut secara kronologis mengandung banyak kelemahan. Contohnya Sunan Ampel, yang diperkirakan wafat pada 1445. Dalam versi ini disebutkan, seolah-olah Sunan Ampel masih hidup sezaman dengan Sunan Kudus, Sunan Bonang, Sunan Drajat, Sunan Kalijaga, dan Sunan Muria. Padahal, Sunan Kudus hidup pada 1540-an.

Adapun Sunan Bonang dan Sunan Drajat adalah putra Sunan Ampel. Sunan Bonang merupakan guru Sunan Kalijaga, yang berputra Sunan Muria. Bagaimana mungkin Sunan Ampel hidup sezaman dengan Sunan Muria? Lagi pula, tokoh Wali Songo yang disebut dalam buku ini –Aliyuddin, Ali Akbar, dan Fatullah Khan– bukan wali terkenal di Jawa.

Nama mereka jarang ditemukan dalam historiografi tradisional, baik berupa serat maupun babad. Padahal, di Jawa terdapat puluhan naskah kuno berupa babad, hikayat, dan serat, yang mengisahkan para wali. Sebagian besar babad juga menggambarkan, Wali Songo hidup dalam kurun waktu yang bersamaan.

Para wali, menurut versi babad, dikisahkan sering mengadakan pertemuan di Masjid Demak dan Masjid ”Sang Cipta Rasa” (Cirebon). Di sana mereka membicarakan berbagai persoalan keagamanan dan kenegaraan. Kisah semacam ini, antara lain, dapat dibaca di Babad Demak, Babad Cirebon, dan Babad Tanah Jawi.

Babad Cirebon, misalnya, mewartakan bahwa pada 1426, para wali berkumpul di Gunung Ciremai. Mereka mengadakan musyawarah yang dipimpin Sunan Ampel, membentuk ”Dewan Wali Songo”. Sunan Gunung Jati ditunjuk selaku wali katib, atau imam para wali. Anggotanya terdiri dari Sunan Ampel, Syekh Maulana Magribi, Sunan Bonang, Sunan Ngudung alias Sunan Kudus, Sunan Kalijaga, Sunan Muria, Syekh Lemah Abang, Syekh Betong, dan Sunan Majagung.

Ditambah dengan Sunan Gunung Jati, jumlah wali itu malah menjadi 10 orang. Nama-nama Wali Songo yang tertulis di Babad Cirebon tersebut berbeda dengan yang tersurat di Babad Tanah Jawi. Dalam Babad Tanah Jawi, yang berasal dari Jawa Tengah, tidak ditemukan nama Syekh Betong dan Syekh Majagung. Sebagai gantinya, akan dijumpai nama Sunan Giri dan Sunan Drajat.

Tapi, peran Wali Songo jelaslah tak sebatas di bidang keagamaan. Mereka juga bertindak selaku anggota dewan penasihat bagi raja. Bahkan, Sunan Giri membentuk dinasti keagamaan, dan secara politis berkuasa di wilayah Gresik, Tuban, dan sekitarnya. Ia mengesahkan penobatan Joko Tingkir sebagai Raja Pajang bergelar Sultan Hadiwijaya, setelah kekuasaan Raja Demak surut.

Di luar Wali Songo, ada puluhan tokoh penyebar agama Islam di Jawa yang juga dianggap sebagai wali. Hanya, biasanya mereka berkuasa di kawasan tak seberapa luas. Sunan Tembayat, misalnya, dikenal sebagai pedakwah di Tembayat, sebuah wilayah kecamatan di Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Ia dilegendakan sebagai murid Sunan Kalijaga.

Sunan Tembayat adalah Adipati Semarang yang termasyhur dengan nama Ki Ageng Pandanarang. Berdasarkan cerita babad yang dikutip H.J. De Graaf dan T.H. Pigeuad, Pandanaran meninggalkan singgasananya lantaran gandrung akan ajaran Islam yang disampaikan Sunan Kalijaga. Pada 1512, Pandanarang menyerahkan tampuk pemerintahan kepada adik laki-lakinya.

”Ia bersama istrinya mengundurkan diri dari dunia ramai,” tulis De Graaf dan Pigeaud dalam buku Kerajaan Islam Pertama di Jawa. ”Pasangan bangsawan Jawa ini berkelana mencari ketenangan batin, sembari berdakwah,” kedua pakar sejarah dari Universitas Leiden, Negeri Belanda, itu menambahkan.

Usai bertualang, Pandanarang dan istrinya bekerja pada seorang wanita pedagang beras di Wedi, Klaten. Akhirnya ia menetap di Tembayat sebagai guru mengaji. Di sana selama 25 tahun, Pandanarang hidup sebagai orang suci dengan sebutan Sunan Tembayat. Ia wafat pada 1537 dan dimakamkan di situ. Bangunan kompleks makam Sunan Tembayat terbuat dari batu berukir, menyerupai bentuk Candi Bentar di Jawa Timur dan pura di Bali.

Pada prasasti makam Sunan Tembayat tertulis, makam ini pertama kali dipugar pada 1566 oleh Raja Pajang, Sultan Hadiwijaya. ”Kemudian, pada 1633, Sultan Agung dari Mataram memperluas dan memperindah bangunan makam Tembayat,” tulis De Graaf. Cerita tutur tentang kesaktian orang suci dari Semarang yang dimakamkan di Tembayat ini, menurut De Graaf, sudah beredar luas di kalangan masyarakat Jawa sejak pertengahan abad ke-17.

Kisah ini ternukil di naskah klasik karya Panembahan Kajoran dari Yogyakarta, yang ditulis pada 1677. Naskah tersebut pertama kali diteliti oleh D.A. Rinkes pada 1909. Dan kini, bukti sejarah itu tersimpan di Museum Leiden, Negeri Belanda. ”Dengan begitu, legenda itu punya inti kebenaran,” tulis De Graaf, yang dijuluki ”Bapak Sejarah Jawa”.

Selain Sunan Tembayat –menurut versi Babad Tanah Jawi– Sunan Kalijaga juga punya murid lain, Sunan Geseng namanya. Nama asli petani penyadap nira ini adalah Ki Cokrojoyo. Alkisah, dalam pengembaraannya, Sunan Kalijaga terpikat suara merdu Ki Crokro yang bernyanyi setelah menyadap nira.

Kalijaga meminta Ki Cokro mengganti syair lagunya dengan zikir kepada Allah. Ketika Ki Cokro berzikir, mendadak gula yang ia buat dari nira itu berubah jadi emas. Petani ini heran bukan kepalang. Ia ingin berguru kepada Sunan Kalijaga. Untuk menguji keteguhan hati calon muridnya, Sunan Kalijaga menyuruh ki Cokro berzikir tanpa berhenti, sebelum ia datang lagi.

Setahun kemudian, Sunan Kalijaga teringat Ki Cokro. Sang aulia memerintahkan murid-muridnya mencari Ki Cokro, yang berzikir di tengah hutan. Mereka kesulitan menemukannya, karena tempat berzikir ki Cokro telah berubah menjadi padang ilalang dan semak belukar. Syahdan, setelah murid-murid Sunan Kalijaga membakar padang ilalang, tampaklah Ki Cokro sujud ke kiblat.

Tubuhnya hangus, alias geseng, dimakan api. Tapi, penyadap nira ini masih bugar, mulutnya berzikir komat-kamit. Sunan Kalijaga membangunkannya dan memberinya nama Sunan Geseng. Ia menyebarkan agama Islam di Desa Jatinom, sekitar 10 kilometer dari kota Klaten arah ke utara. Penduduk Jatinom mengenal Sunan Geseng dengan sebutan Ki Ageng Gribik.

Julukan itu berangkat dari pilihan Sunan Geseng untuk tinggal di rumah beratap gribik –anyaman daun nyiur. Menurut legenda setempat, ketika Ki Ageng Gribik pulang dari menunaikan ibadah haji, ia melihat penduduk Jatinom kelaparan. Ia membawa sepotong kue apem, dibagikan kepada ratusan orang yang kelaparan. Semuanya kebagian.

Kia Ageng Gribik meminta warga yang kelaparan makan secuil kue apem seraya mengucapkan zikir: Ya-Qowiyyu (Allah Mahakuat). Mereka pun kenyang dan sehat. Sampai kini, masyarakat Jatinom menghidupkan legenda Ki Ageng Gribik itu dengan menyelenggarakan upacara ”Ya-Qowiyyu” pada setiap bulan Syafar.

Warga membikin kue apem, lalu disetorkan ke masjid. Apem yang terkumpul jumlahnya mencapai ratusan ribu. Kalau ditotal, beratnya sekitar 40 ton. Puncak upacara berlangsung usai salat Jumat. Dari menara masjid, kue apem disebarkan para santri sambil berzikir, Ya-Qowiyyu…. Ribuan orang yang menghadiri upacara memperebutkan apem ”gotong royong” itu.

Kisah Ki Ageng Gribik hanyalah satu dari sekian banyak mitos tentang para wali. Legenda keagamaan yang ditulis babad, menurut De Graaf, sedikit nilai kebenarannya. Hanya yang mengenai wali-wali terkemuka, katanya, ada kepastian sejarah yang cukup kuat. Makam mereka masih tetap merupakan tempat yang sangat dihormati. Pada kurun abad ke-16 hingga abad ke-17, keturunan para wali juga memegang peranan penting dalam sejarah politik Jawa.

Selama 40 hari, Raden Paku bertafakur di sebuah gua. Ia bersimpuh, meminta petunjuk Allah SWT, ingin mendirikan pesantren. Di tengah hening malam, pesan ayahnya, Syekh Maulana Ishak, kembali terngiang: ”Kelak, bila tiba masanya, dirikanlah pesantren di Gresik.” Pesan yang tak terlalu sulit, sebetulnya.

Tapi, ia diminta mencari tanah yang sama persis dengan tanah dalam sebuah bungkusan ini. Selesai bertafakur, Raden Paku berangkat mengembara. Di sebuah perbukitan di Desa Sidomukti, Kebomas, ia kemudian mendirikan Pesantren Giri. Sejak itu pula Raden Paku dikenal sebagai Sunan Giri. Dalam bahasa Sansekerta, ”giri” berarti gunung.

Namun, tak ada peninggalan yang menunjukkan kebesaran Pesantren Giri –yang berkembang menjadi Kerajaan Giri Kedaton. Tak ada juga bekas-bekas istana. Kini, di daerah perbukitan itu hanya terlihat situs Kedaton, sekitar satu kilometer dari makam Sunan Giri. Di situs itu berdiri sebuah langgar berukuran 6 x 5 meter.

Di sanalah, konon, sempat berdiri sebuah masjid, tempat Sunan Giri mengajarkan agama Islam. Ada juga bekas tempat wudu berupa kolam berukuran 1 x 1 meter. Tempat ini tampak lengang pengunjung. ”Memang banyak orang yang tidak tahu situs ini,” kata Muhammad Hasan, Sekretaris Yayasan Makam Sunan Giri, kepada GATRA.

Syahdan, Pesantren Giri terkenal ke seluruh penjuru Jawa, bahkan sampai ke Madura, Lombok, Kalimantan, Sulawesi, dan Maluku. Menurut Babad Tanah Jawi, murid Sunan Giri juga bertebaran sampai ke Cina, Mesir, Arab, dan Eropa. Pesantren Giri merupakan pusat ajaran tauhid dan fikih, karena Sunan Giri meletakkan ajaran Islam di atas Al-Quran dan sunah Rasul.

Ia tidak mau berkompromi dengan adat istiadat, yang dianggapnya merusak kemurnian Islam. Karena itu, Sunan Giri dianggap sebagai pemimpin kaum ”putihan”, aliran yang didukung Sunan Ampel dan Sunan Drajat. Tapi, Sunan Kalijaga menganggap cara berdakwah Sunan Giri kaku. Menurut Sunan Kalijaga, dakwah hendaklah pula menggunakan pendekatan kebudayaan.

Misalnya dengan wayang. Paham ini mendapat sokongan dari Sunan Bonang, Sunan Muria, Sunan Kudus, dan Sunan Gunung Jati. Perdebatan para wali ini sempat memuncak pada peresmian Masjid Demak. ”Aliran Tuban” –Sunan Kalijaga cs– ingin meramaikan peresmian itu dengan wayang. Tapi, menurut Sunan Giri, menonton wayang tetap haram, karena gambar wayang itu berbentuk manusia.

Akhirnya, Sunan Kalijaga mencari jalan tengah. Ia mengusulkan bentuk wayang diubah: menjadi tipis dan tidak menyerupai manusia. Sejak itulah wayang beber berubah menjadi wayang kulit. Ketika Sunan Ampel, ”ketua” para wali, wafat pada 1478, Sunan Giri diangkat menjadi penggantinya. Atas usulan Sunan Kalijaga, ia diberi gelar Prabu Satmata.

Diriwayatkan, pemberian gelar itu jatuh pada 9 Maret 1487, yang kemudian ditetapkan sebagai hari jadi Kabupaten Gresik. Di kalangan Wali nan Sembilan, Sunan Giri juga dikenal sebagai ahli politik dan ketatanegaraan. Ia pernah menyusun peraturan ketataprajaan dan pedoman tata cara di keraton. Pandangan politiknya pun dijadikan rujukan.

Menurut Dr. H.J. De Graaf, lahirnya berbagai kerajaan Islam, seperti Demak, Pajang, dan Mataram, tidak lepas dari peranan Sunan Giri. Pengaruhnya, kata sejarawan Jawa itu, melintas sampai ke luar Pulau Jawa, seperti Makassar, Hitu, dan Ternate. Konon, seorang raja barulah sah kerajaannya kalau sudah direstui Sunan Giri.

Pengaruh Sunan Giri ini tercatat dalam naskah sejarah Through Account of Ambon, serta berita orang Portugis dan Belanda di Kepulauan Maluku. Dalam naskah tersebut, kedudukan Sunan Giri disamakan dengan Paus bagi umat Katolik Roma, atau khalifah bagi umat Islam. Dalam Babad Demak pun, peran Sunan Giri tercatat.

Ketika Kerajaan Majapahit runtuh karena diserang Raja Girindrawardhana dari Kaling Kediri, pada 1478, Sunan Giri dinobatkan menjadi raja peralihan. Selama 40 hari, Sunan Giri memangku jabatan tersebut. Setelah itu, ia menyerahkannya kepada Raden Patah, putra Raja Majapahit, Brawijaya Kertabhumi.

Sejak itulah, Kerajaan Demak Bintoro berdiri dan dianggap sebagai kerajaan Islam pertama di Jawa. Padahal, sebenarnya, Sunan Giri sudah menjadi raja di Giri Kedaton sejak 1470. Tapi, pemerintahan Giri lebih dikenal sebagai pemerintahan ulama dan pusat penyebaran Islam. Sebagai kerajaan, juga tidak jelas batas wilayahnya.

Tampaknya, Sunan Giri lebih memilih jejak langkah ayahnya, Syekh Maulana Ishak, seorang ulama dari Gujarat yang menetap di Pasai, kini Aceh. Ibunya Dewi Sekardadu, putri Raja Hindu Blambangan bernama Prabu Menak Sembuyu. Kisah Sunan Giri bermula ketika Maulana Ishak tertarik mengunjungi Jawa Timur, karena ingin menyebarkan agama Islam.

Setelah bertemu dengan Sunan Ampel, yang masih sepupunya, ia disarankan berdakwah di daerah Blambangan. Ketika itu, masyarakat Blambangan sedang tertimpa wabah penyakit. Bahkan putri Raja Blambangan, Dewi Sekardadu, ikut terjangkit. Semua tabib tersohor tidak berhasil mengobatinya.

Akhirnya raja mengumumkan sayembara: siapa yang berhasil mengobati sang Dewi, bila laki-laki akan dijodohkan dengannya, bila perempuan dijadikan saudara angkat sang dewi. Tapi, tak ada seorang pun yang sanggup memenangkan sayembara itu. Di tengah keputusasaan, sang prabu mengutus Patih Bajul Sengara mencari pertapa sakti.

Dalam pencarian itu, patih sempat bertemu dengan seorang pertapa sakti, Resi Kandayana namanya. Resi inilah yang memberi ”referensi” tentang Syekh Maulana Ishak. Rupanya, Maulana Ishak mau mengobati Dewi Sekardadu, kalau Prabu Menak Sembuyu dan keluarganya bersedia masuk Islam. Setelah Dewi Sekardadu sembuh, syarat Maulana Ishak pun dipenuhi.

Seluruh keluarga raja memeluk agama Islam. Setelah itu, Dewa Sekardadu dinikahkan dengan Maulana Ishak. Sayangnya, Prabu Menak Sembuyu tidak sepenuh hati menjadi seorang muslim. Ia malah iri menyaksikan Maulana Ishak berhasil mengislamkan sebagian besar rakyatnya. Ia berusaha menghalangi syiar Islam, bahkan mengutus orang kepercayaannya untuk membunuh Maulana Ishak.

Merasa jiwanya terancam, Maulana Ishak akhirnya meninggalkan Blambangan, dan kembali ke Pasai. Sebelum berangkat, ia hanya berpesan kepada Dewi Sekardadu –yang sedang mengandung tujuh bulan– agar anaknya diberi nama Raden Paku. Setelah bayi laki-laki itu lahir, Prabu Menak Sembuyu melampiaskan kebenciannya kepada anak Maulana Ishak dengan membuangnya ke laut dalam sebuah peti.

Alkisah, peti tersebut ditemukan oleh awak kapal dagang dari Gresik, yang sedang menuju Pulau Bali. Bayi itu lalu diserahkan kepada Nyai Ageng Pinatih, pemilik kapal tersebut. Sejak itu, bayi laki-laki yang kemudian dinamai Joko Samudro itu diasuh dan dibesarkannya. Menginjak usia tujuh tahun, Joko Samudro dititipkan di padepokan Sunan Ampel, untuk belajar agama Islam.

Karena kecerdasannya, anak itu diberi gelar ”Maulana `Ainul Yaqin”. Setelah bertahun-tahun belajar, Joko Samudro dan putranya, Raden Maulana Makhdum Ibrahim, diutus Sunan Ampel untuk menimba ilmu di Mekkah. Tapi, mereka harus singgah dulu di Pasai, untuk menemui Syekh Maulana Ishak.

Rupanya, Sunan Ampel ingin mempertemukan Raden Paku dengan ayah kandungnya. Setelah belajar selama tujuh tahun di Pasai, mereka kembali ke Jawa. Pada saat itulah Maulana Ishak membekali Raden Paku dengan segenggam tanah, lalu memintanya mendirikan pesantren di sebuah tempat yang warna dan bau tanahnya sama dengan yang diberikannya.

Kini, jejak bangunan Pesantren Giri hampir tiada. Tapi, jejak dakwah Sunan Giri masih membekas. Keteguhannya memurnikan agama Islam juga diikuti para penerusnya. Sunan Giri wafat pada 1506 Masehi, dalam usia 63 tahun. Ia dimakamkan di Desa Giri, Kecamatan Kebomas, Kabupaten Gresik, Jawa Timur

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Kisah Pendeta Yang Insaf

8 Agustus 2011 at 16:55 (Tak Berkategori)

Ibrahim al-Khawas ialah seorang wali Allah yang terkenal keramat dan dimakbulkan segala doanya oleh Tuhan. Beliau pernah menceritakan suatu peristiwa yang pernah dialaminya. Katanya, “Menurut kebiasaanku, aku keluar menziarahi Mekah tanpa kendaraan dan kafilah. Pada suatu kali, tiba-tiba aku tersesat jalan dan kemudian aku berhadapan dengan seorang rahib Nasrani (Pendeta Kristian).”
Bila dia melihat aku dia pun berkata, “Wahai rahib Muslim, bolehkah aku bersahabat denganmu?”

Ibrahim segera menjawab, “Ya, tidaklah aku akan menghalangi kehendakmu itu.”

Maka berjalanlah Ibrahim bersama dengannya selama tiga hari tanpa meminta makanan sehinggalah rahib itu menyatakan rasa laparnya kepadaku, katanya, “Tiadalah ingin aku memberitakan kepadamu bahawa aku telah menderita kelaparan. Kerana itu berilah aku sesuatu makanan yang ada padamu.”
Mendengar permintaan rahib itu, lantas Ibrahim pun bermohon kepada Allah dengan berkata, “Wahai Tuhanku, Pemimpinku, Pemerintahku, janganlah engkau memalukan aku di hadapan seteru engkau ini.”

Belum pun habis Ibrahim berdoa, tiba-tiba turunlah setalam hidangan dari langit berisi dua keping roti, air minuman, daging masak dan tamar. Maka mereka pun makan dan minum bersama dengan senang sekali.
“Sesudah itu aku pun meneruskan perjalananku. Sesudah tiga hari tiada makanan dan minuman, maka di kala pagi, aku pun berkata kepada rahib itu, “Hai rahib Nasrani, berikanlah ke mari sesuatu makanan yang ada kamu. Rahib itu menghadap kepada Allah, tiba-tiba turun setalam hidangan dari langit seperti yang diturunkan kepadaku dulu.”

Sambung Ibrahim lagi, “Tatkala aku melihat yang demikian, maka aku pun berkata kepada rahib itu – Demi kemuliaan dan ketinggian Allah, tiadalah aku makan sehingga engkau memberitahukan (hal ini) kepadaku.”
Jawab rahib itu, “Hai Ibrahim, tatkala aku bersahabat denganmu, maka jatuhlah telekan makrifah (pengenalan) engkau kepadaku, lalu aku memeluk agama engkau. Sesungguhnya aku telah membuang-buang masa di dalam kesesatan dan sekarang aku telah mendekati Allah dan berpegang kepada-Nya. Dengan kemuliaan engkau, tiadalah dia memalukan aku. Maka terjadilah kejadian yang engkau lihat sekarang ini. Aku telah mengucapkan seperti ucapanmu (kalimah syahadah).”

“Maka sucitalah aku setelah mendengar jawapan rahib itu. Kemudian aku pun meneruskan perjalanan sehingga sampai ke Mekah yang mulia. Setelah kami mengerjakan haji, maka kami tinggal dua tiga hari lagi di tanah suci itu. Suatu ketika, rahib itu tiada kelihatan olehku, lalu aku mencarinya di masjidil haram, tiba-tiba aku mendapati dia sedang bersembahyang di sisi Ka’bah.”

Setelah selesai rahib itu bersembahyang maka dia pun berkata, “Hai Ibrahim, sesungguhnya telah hampir perjumpaanku dengan Allah, maka peliharalah kamu akan persahabatan dan persaudaraanku denganmu.”

Baru saja dia berkata begitu, tiba-tiba dia menghembuskan nafasnya yang terakhir yaitu pulang ke rahmatullah. Seterusnya Ibrahim menceritakan, “Maka aku berasa amat dukacita di atas kepergiannya itu. Aku segera menguruskan hal-hal pemandian, kafan dan pengebumiannya. Apabila malam aku bermimpi melihat rahib itu dalam keadaan yang begitu gagah sekali tubuhnya dihiasi dengan pakaian sutera yang indah.”
Melihatkan itu, Ibrahim pun terus bertanya, “Bukankah engkau ini sahabat aku kemarin, apakah yang telah dilakukan oleh Allah terhadap engkau?”

Dia menjawab, “Aku berjumpa dengan Allah dengan dosa yang banyak, tetapi dimaafkan dan diampunkan-Nya semua itu kerana aku bersangka baik (zanku) kepada-Nya dan Dia menjadikan aku seolah-olah bersahabat dengan engkau di dunia dan berhampiran dengan engkau di akhirat.”
Begitulah persahabatan di antara dua orang yang berpengetahuan dan beragama itu akan memperolehi hasil yang baik dan memuaskan. Walaupun salah seorang dahulunya beragama lain, tetapi berkat keikhlasan dan kebaktian kepada Allah, maka dia ditarik kepada Islam dan mengalami ajaran-ajarannya.”

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

PANTUN ROMANTIS

6 Agustus 2011 at 15:00 (Tak Berkategori)

Karna ap ada bata
Klw bkn Krn TuKang
Karna ap ada CinTa
klw Bkn kRn Cayank

Jangan menulis diatas kaca
Menulislah diatas meja
Jangan menangis karena cinta
Menangislah karena dosa

Buah duku buah rambutan
Cuci piring bawah jembatan
Entah jodohku entah bukan
Yang penting persahabatan.

Bunga mawar jangan di bungkus
Kalau dibungkus hilang sarinya,
Punya pacar jangan diputus
Kalau diputus sakit hatinya”

Ada lilin di gereja
Hanya satu yang menyala
Banyak lelaki didunia
Hanya satu yang ku cinta

Kue cucur enak rasanya
Kue serabi putih warnanya
Hatiku hancur karena cinta
Siapakah yg akan jadi pengobatnya

Kembang gula di perigi
Untuk aku minum jamu
Kemana pun kamu pergi
Aku slalu rindu kamu

Meski hanya buah jambu
Tapi ini bisa diramu
Meskipun jarang ketemu
Cintaku hanya untukmu

Kelap kelip bintang bertaburan
Hanya satu yg tampak terang
Sungguh banyak pria pilihan
Hanya engkau yg paling ku sayang

Kelap kelip di tengah malam
Ku lihat bintang sangat menawan
Biar cinta banyak rintangan
Ku jaga cinta dg kesetiaan

Sayang selasih tidak berbunga
Engganlah kumbang untuk menyapa
Sayang kekasih tidak setia
Badan merana kini jadinya

Ada harta tidak terjaga
Ada peti tidak berkunci
Kisah cinta anak remaja
Sekejap kasih sekejap benci

Dari mana punai melayang,
Dari paya turun ke padi;
Dari mana datangnya sayang,
Dari mata turun ke hati.

Burung kakatua
Hinggap dijendela
Siapa yang jatuh cinta
Pasti cemburu buta

Karna apz ada bata
Klw bkn Krn TuKang
Karna apz ada CinTa
Klw Bkn kRn Cayank

Rumah prancis,berjendela kaca
Salam manis buat yg baca

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Cerita Lucu (Konyol Version)

6 Agustus 2011 at 06:55 (Tak Berkategori)


‘Pengemis’
Di Lorong sempit di tengah kota nampak 2 pengemis yg sedang mengemis tentunya.

Pengemis 1: “Tuan, Nyonya…berilah kami uang….. 500 boleh 100 juga boleh 100 ribu juga nggak nolak”.
Pengemis 2: “Berilah kami uang tuan, tuan akan kami do’akan semoga cepat kaya !”.

Pengemis 1: “seharian kita mengemis, kok ya ga bisa buat beli mobil ya ? eh…ngomongin soal orang kaya, gue ini sebenarnya keturunan orang kaya Lho-harta peninggalan keluarga kami nggak akan habis dimakan tujuh keturunan !”.

Pengemis 2: “Lha trus kenapa elo jadi kere dan ngemis kaya gini ?”.
Pengemis 1: “Gue keturunan kedelapan !”

‘Kehebatan anjing’
Di sela-sela suatu pertemuan pemuda antar negara terjadi dialog santai antara pemuda Canada, pemuda Inggris dan pemuda Indonesia.
PEMUDA CANADA : “Di Negara tetangga saya, anda tidak bisa membedakan anjing polisi dan pemiliknya”.
PEMUDA INGRRIS & INDONESIA : “Mengapa Begitu ?”
PEMUDA CANADA : “Anjingnya bisa menangkap penjahat seperti polisi, penciuman polisinya untuk mengetahui kejahatan setajam penciuman anjing.”
PEMUDA INGGRIS : “Dinegara tetangga saya, anda tidak bisa membedakan anjing pemburu dan pemiliknya. Karena anjingnya bisa menangkap binatang buruan sehebat majikannya dan pemburunya mempunyai penciuman yang tajam terhadap binatang buruan seperti anjingnya”.
PEMUDA INDONESIA (tak mau kalah) : “Di Negara tetangga saya, anda tidak bisa membedakan anjing pejabat dan pemiliknya.”
PEMUDA INGGRIS & CANADA (heran dan bingung) : “Mengapa Begitu?”
PEMUDA INDONESIA : “Saya tidak begitu jelas, tapi saya sering melihat kedua-dua sering menjilati kaki majikannya.”

‘Gajah mati’
seekor gajah mati disebuah kebun binatang karena usia tua. mendengar itu manajer kebun binatang pun melakukan peninjauan. akhirnya ia menemukan seekor gajah besar seberat 1 ton tergeletak mati, disamping gajah terlihat seorang petugas kebun binatang yang sedang menangis terisak-isak.
“sudah lah pak, memang berat rasanya anda sebagai pawang berpisah dengan gajah yang anda rawat selama bertahun-tahun, lagi pula masih banyak kan gajah-gajah yang lain,” hibur sang manajer.
“tapi saya bukan pawang gajah,” bantah petugas yang menangis itu.
“lho kalau anda bukan pawangnya lalu kenapa anda menangis? anda ini siapa?” kaget sang manajer.
“saya petugas yang disuruh menggali kuburannya,”jawab nya sambil terus menangis.

‘Obat aneh’
Pasien : Dok, tolonglah sembuhkan penyakit saya. Saya sering berjalan di waktu tidur.
Dokter : Ini kotak yang bisa menyelesaikan persoalanmu. Setiap malam, ketika Anda sudah bersiap untuk tidur keluarkan isi kotak itu dan taburkan di lantai sekeliling tempat tidurmu.
Pasien : Kotak apa ini, Dok? apakah sejenis serbuk penenang?
Dokter : Bukan. Ini kotak paku payung.

‘Teh Dingin’
Si Waen dan Wowu yang baru turun gunung, langsung keliling kota jakarta. setelah seharian keliling mereka kehausan, lalu menuju sebuah warung. Waen melihat daftar harga minuman:
-teh dingin = Rp.2000,-
-teh panas = Rp.1000,-
kemudian Si Waen memesan teh panas karena uangnya hanya Rp.1000,-. begitu pesanan teh panas datang, si Waen langsung meminumnya tanpa ditiup/didinginkan dulu, jelas aja dia kepanasan sambil memegangi tenggorokannya.
Si Wowu kaget melihat itu: “kenapa, langsung kamu minum teh yang masih panas itu?”. si Waen menjawab: “Nih lihat!, kalo tehnya udah dingin, harganya Rp.2000,-, mana cukup uangku?”.

‘Saya Jewer’
Dalam suatu apel pagi, seorang komandan sedang mengetes anak buahnya dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan :
Komandan : “Apa yang kamu lakukan jika kamu berhadapan dengan musuh dalam jumlah yang sangat besar?!!”
Anak buah : “Langsung saya serang pak!!!!”
Komandan : “Salah! Kamu harus melaporkan pada pasukanmu supaya dapat menyerang bersama-sama. Lalu bagaimana jika kamu berhadapan dengan seekor babi hutan yang jinak?!”
Anak buah : “Saya melaporkan pada pasukan saya supaya dapat menyerang bersama-sama pak!”
Komandan : “Salah! Kamu harus men-jewer kupingnya supaya tidak nakal!, Lalu apa yang kamu lakukan jika berhadapan dengan saya?”
Anak buah : “Langsung saya jewer kupingnya pak, biar tidak nakal!!”
Komandan : ??

‘Nyontek’
Pada suatu hari, ayah si Tono dipanggil menghadap Kepala Sekolah karena Tono sering melihat pekerjaan temannya (alias nyontek) pada saat ulangan.
Ayah Tono: Apa buktinya kalau anak saya nyontek?
Kepsek: Salah satu buktinya, ya ini, pada waktu ujian sejarah. Pertanyaan no. 1 : Siapa pengarang buku ‘Habis Gelap Terbitlah Terang’? Kedua-duanya menjawab RA. KARTINI.
Ayah Tono: Lha, jawaban kan bisa saja sama karena si Tono kan juga belajar sebelum ulangan.
Kepsek: Ya, bisa saja sama. Tapi coba dong Bapak lihat Pertanyaan ke 2 : Dimana R.A. Kartini dilahirkan? Kedua-duanya menjawab, DI JEPARA.
Ayah Tono: Ah, itu sih kebetulan. Bapak tidak cukup bukti untuk menyatakan anak saya nyontek. Bisa saja malah si Andi yang nyontek pekerjaan anak saya.
Kepsek: Bapak betul, bisa saja itu kebetulan. Tapi coba dong bapak lihat Pertanyaan ke 3 : Tahun berapa terjadi Perang Diponegoro? Andi jawab: Gua enggak tahu, Si Tono jawab: Apalagi gua.
Ayah Tono: ?????

‘Nikah’
Suzy menyampaikan hasrat hatinya kepada bapanya untuk menikah dengan Robert, Jejaka pilihannya yang juga adalah tetangga dan teman sepermainannya sejak kecil.
Suzy: Ayah, Robert melamar saya. Kami mau nikah.
Ayah: Apa? Tidak boleh! Kamu boleh menikah dengan siapa saja kecuali Robert.
Suzy: Tapi mengapa?
Ayah: (Separuh berbisik) Karena Robert sebenarnya adalah abangmu. Tapi, jangan beritahu ibumu ya!
Terkejut dengan jawaban itu, suzy pergi kepada ibunya.
Suzy: Ibu, Ayah melarang saya menikah dengan Robert.
Ibu: Tak usah dengar kata ayah kamu itu. Kamu boleh nikah dengan siapa yang kamu suka termasuk Robert.
Suzi: Tapi kata ayah, Robert itu abang saya. kakak beradik kan tak boleh nikah.
Ibu: (Separuh berbisik) Hmmm…. Ayah kamu pun tak tahu kamu bukan anaknya.
Suzy: Ha!!??!!

‘Nenek Ani’
Nenek Ani dirawat di rumah sakit. Menurut dokter, asmanya sudah semakin parah hingga perlu dipasang saluran oksigen. Sudah beberapa hari dia tidak bicara dan seperti orang koma. Dikira sudah menjelang ajal, anaknya memanggilkan Pak Mudhin (tukang do’a) agar di doakan. Sedang asyik Pak Mudhin berdoa, tiba-tiba muka nenek Ani berubah membiru seolah-olah tidak bernafas. Tangannya menggigil. Dengan menggunakan bahasa isyarat nenek Ani minta diambilkan kertas dan alat tulis. Sisa-sisa tenaga yang ada digunakan oleh nenek Ani untuk menulis sesuatu dan memberi kertas tersebut kepada Pak Mudhin.
Sambil terus berdoa Pak Mudhin langsung menyimpan kertas tersebut tanpa membacanya kerana pikirnya dia tidak sanggup membaca surat wasiat tersebut didepan Ani. Tak lama kemudian nenek Ani meninggal dunia. Pada hari ketujuh meninggalnya nenek Ani, Pak Mudhin diundang untuk datang kerumah Ani.
Selesai memimpin do’a, Pak Mudhin berbicara, “Saudara-saudara sekalian, ini ada surat wasiat dari almarhum nenek Ani yang belum sempat saya sampaikan, yang pasti nasehat untuk anak cucunya semua. Mari kita sama-sama membaca suratnya”.
Pak Mudhin membaca surat tersebut, yang ternyata berbunyi :
“Mudhin jangan berdiri di situ…! Jangan injak selang oksigen aku..!”

‘Nyebut Sep’
Suatu hari, mang Usep, si penjual sayur keliling yang masih muda belia, ditabrak mobil. Si penabrak langsung ngacir meninggalkan si korban yang tergeletak di sisi jalan dan orang2 sekitar yang memaki-maki.
Orang2 segera berkerumun menolong mang Usep, tukang sayur kesayangan mereka. Kondisi mang Usep sangat parah. Darah meleleh di sekujur tubuhnya. Nampaknya ajal sudah dekat. Seorang ibu, tidak tega melihat keadaannya. Beliau mendekat lalu berkata, “Nyebut….Sep…. Nyebut….!” Maksudnya agar mang Usep mengingat nama-Nya di saat2 terakhir.
Mang Usep, dengan kekuatan terakhirnya berusaha menggerakkan bibirnya. Dia lalu berkata dengan nyaring, “SAYUUUUUURRR………”

‘Gali sumur’
Dadang seorang sunda asli bekerja di tempat haji Nasir seorang pemuka Betawi. kebetulan saat itu adalah musim kemarau yang panjang. Sumur haji Nasir sudah kering kerontang, mau tidak mau si Dadang wajib menggali untuk mendapatkan air bersih. waktu makan siang sudah tiba.
” Dang, makan dulu terus sholat dhuhur..!!!” kata haji Nasir
” Tarrrajeeee Pak Hajiiiii….” katanya.
Haji Nasir pergi untuk makan dan sholat. setengah jam lagi dia datang ke sumur yang baru di gali.
” Makan dulu Dang…..!!!” katanya
” Taaaarrraaajeee Pak Haji” seru Datang
Haji nasir heran dan berguman ” Kuat banget nih anak, nggaak rugi gue memperkerjakan die..”
satu jam kemudian pak haji menengok kerjaan dadang, dan berkata hal yang sama. jawaban dadang demikian juga.
Bedug ashar udah kedengaran, Si dadang belum juga keluar dari sumur.
” Dang udah hampir Ashar nih…!!!” Seru Pak Haji.
TAk kedengaran suaranya sekarang. Haji Nasir melongok ke lubang. DADANG PINSAN…………..
Buru-buru diangkat si Dadang dengan bantuan warga kampung situ. setelah sabar dengan wajah dongkol dadang marah-marah ke haji Nasir.
” Pak Haji Pengin Mbunuh saya ya ????”
” LAh Lu gimana sih di minta makan Ntar aje… Ntar aje ….”
” Bukan ntaar aje pak Haji… Taraje (tangga bahasa Sunda) ” jawab Dadang dongkol…………

‘PAIJO & HP BAROE’
Si Paijo yang udik baru aja panen besar pergi ke kota. Dia pengin banget beli handphone. Maka ia pergi ke counter hp.
Paijo : Mbak, saya mau beli hp.
Sales : Ini, Mas.
Paijo : Lo, kok gak nyala?
Sales : O, ini belum ada nomor kartunya, Mas. Mas harus beli kartunya dulu.
Paijo : Ya udah, saya beli kartunya. Kasih nomor cantik ya. (idih, udik kok ngerti nomor cantik?-red)
Seteleh itu pulanglah si Paijo ke kampungnya, tapi dia heran kok gak bisa dipake tuh hp, mak besoknya ia datangi lagi sales tokonya.
Paijo : Kamu ini gimana, kok hp ini gak bisa dipake di kampung saya?
Sales : O, itu karena di kampung Mas belum ada sinyal.
Paijo : La, situ kok nggak bilang kemarin. Ya udah saya beli sinyalnya sekalian, jualan kok sendiri-sendiri gitu

‘Sama Umur’
Sudah lama Budi naksir cewek yang tinggal dikampung sebelah. Ternyata cintanya tidak bertepuk sebelah tangan. Cewek itu menerima cinta Budi dengan sepenuh hati, meski “proklamasi cinta” Budi dilakukan di gang sempit pinggir selokan. Sayang, kisah-kasih di selokan itu tidak berjalan mulus.
Orang tua si gadis keberatan karena Budi belum bekerja. Namun keduanya pantang menyerah. Bahkan, setelah beberapa bulan menjalin kasih, Budi memberanikan diri melamar. Ia menemui ayah si gadis. “Pak, kami sudah saling cinta, maka kami akan menikah. Kapan saya boleh menikahi anak bapak?” kata Budi.
Ayah si gadis jelas menolak. Namun untuk berkata terus terang, ia tidak sampai hati. “Begini Nak Budi. Bukan saya keberatan, tapi tunggulah saat yang tepat. Saat ini umur anak saya 20 tahun, umur Nak Budi 24 tahun. Jadi, tunggulah sampai umur kalian sama”, kata si bapak. Kontan saja si Budi langsung Pingsan…

‘Kaya tapi norak’
Pada suatu hari ada orang betawi yg baru jual tanahnya 2 hektar namanya Romli, setelah tanahnya laku dan mendapat duit banyak si Romli ceritanya beli motor balap.
pas keluar dealernya si Romli langsung tancap gas tuh motor sekenceng-kencengnya…. di persimpangan jalan dia ngeliat mobil BMW, tuh mobil langsung dipepet sama si Romli sambil gedor-geduor kaca tuh mobil saqmpe yang punya mobil kaget….. duak…duak..duak…yang punya mobil buka kaca n nanya maksud si Romli
Yg punya mobil : ” ada apaan!?”
Romli : “woy lo punya gak motor kayak gini?”
pikir yang punya mobil,ini orang pera’ bgt mentang2 punya motor balap, dicuekinlah si Romli.. si Romli yg masih penasaran nge-gedor-gedor tuh mobil lagi..
Yg punya mobil :” apaan lagi siiih!!!!”
Romli : ” wooooy looo puuunnnyyyyaaaa gaaaakkkk mottttoooorrrr kkkaaaaayyyyyaaakkkk gggiiiiiinnnnniiiii…..i???” yg punya mobil bt ditanyain mulu langsung banting stir si romli yg lg ngebut nabrak tuh mobil…dan jatuh plus bersimbah darah pula,yg punya mobil merasa iba langsung turun mau nolongin si romli
Yg punya mobil : ” eh..lo gak kenapa2 kan!?”
Romli : ” woy lo punya gak motor kayak gini? gue cuma mao nanya rem-nye dimaneeee…….

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Uji keaslian mata uang

5 Agustus 2011 at 06:28 (Tak Berkategori)

Banyaknya pemalsuan di negara kita mengharuskan kita waspada. Di bawah ini ada beberapa tips untuk mengetes keaslian uang rupiah dengan cara mudah.
# Cara tercepat dan efisien mengetes uang Rp 100.000
1. lipat menjadi 4 bagian secara memanjang.
2. tekan uang tersebut dengan tekanan secukupnya.
3. buka perlahan-lahan lipatan uang tsb.
4. bila kacamata Bung Hatta pecah berarti palsu; dan bila tidak, berarti asli.
# Untuk uang Rp. 500
1. lipat menjadi 4 bagian secara memanjang.
2. tekan uang tersebut dengan tekanan secukupnya.
3. kalo orang utannya teriak-teriak berarti palsu; kalo tidak, berarti asli.
# Untuk uang Rp. 5.000
Ambil sisir rambut di rumah, kemudian gesekkan pada uang tersebut. Apabila jenggot Imam Bonjol rontok berarti palsu. Apabila tambah panjang berarti palsu juga!!
# Untuk ngetes palsu-tidaknya uang 20 dan 10 ribuan
Cukup taruh di depan rumah. Kalo ilang berarti asli….

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Watak n Kepribadian (Kidding)

3 Agustus 2011 at 14:14 (Tak Berkategori)


Bentuk Mata

Watak atau kepribadian seseorang dapat diketahui dari bentuk mata kita.

Bila bentuk mata nya bulat menggambarkan baik hati, suka menolong dan senang bekerja.

Bila bentuk mata nya lebar menggambarkan jujur, suka berterus terang dan berwibawa.

Bila bentuk mata nya sipit menggambarkan penuh semangat, tidak mudah putus asa dan hampir selalu mencapai tujuan.

Bila bentuk mata nya juling menggambarkan sirik, tidak pernah merasa puas dan hidupnya selalu menderita.

Bila bentuk mata nya sedang menggambarkan memiliki hati yang teguh, suka berpetualang.

Bila bentuk mata nya lonjong menggambarkan suka berpikir muluk, sok pintar.

Bentuk Hidung

Watak atau kepribadian seseorang dapat diketahui dari bentuk hidung kita.

Bila bentuk hidung agak besar mencerminkan cepat tersinggung, nafsunya besar dan agak pemalas.

Bila bentuk hidung agak besar bagian bawah mencerminkan tidak pandai menyimpan uang, selalu berpikir yang muluk-muluk.

Bila bentuk hidung agak besar tapi mancung mencerminkan angkuh, suka mementingkan diri sendiri.

Bila bentuk hidung agak besar tapi pesek mencerminkan pelit, tidak punya inisiatif.

Bila bentuk hidung agak besar dan bundar mencerminkan gengsinya besar, tidak suka dianggap remeh.

Bila bentuk hidung agak kecil mencerminkan cerdas, namun hidupnya selalu menderita.

Bila bentuk hidung agak sedang mencerminkan tulus hati, suka menolong.

Bila bentuk hidung agak mancung agak runcing mencerminkan sportif, pandai bicara.

Bila bentuk hidung dengan lubang hidung agak lebar mencerminkan sirik, suka menginginkan milik orang lain.

Bila bentuk hidung dengan lubang hidung agak kecil mencerminkan tidak mempunyai pikiran tetap, mudah tergoda.

Bentuk Bibir

Watak atau kepribadian seseorang dapat diketahui dari bentuk bibir kita.

Bila bentuk bibirnya agak lebar, memiliki kepribadian pandai mengtur uang, sabar, dan agak berani.

Bila bentuk bibirnya agak kecil, memiliki kepribadian suka berterus terang, berhati kecil dan sering menganggap dirinya tidak bahagia.

Bila bentuk bibirnya agak besar dan terbuka (menganga), memiliki kepribadian suka mementingkan diri sendiri namun rela berkorban untuk orang yang disukai.

Bila bentuk bibirnya agak tipis, memiliki kepribadian cepat terpengaruh, tidak mempunyai prinsip.

Bila bentuk bibirnya agak dower, memiliki kepribadian selalu mementingkan diri sendiri, tidak mau mengalah.

Bila bentuk bibirnya agak kecil agak sempit, memiliki kepribadian selalu bimbang dan tidak bisa mengambil keputusan dengan baik.

Bila bentuk bibirnya agak berwarna kehitaman, memiliki kepribadian suka berselingkuh dan berbohong.

Bila bentuk bibirnya agak berwarna pucat, memiliki kepribadian ingin menang sendiri, mudah naik darah.

Bila bentuk bibirnya agak berwarna kemerahan, memiliki kepribadian cerdas mempunyai hati yang tulus, namun agak sombong.

Bila bentuk bibirnya agak berwarna merahdadu, memiliki kepribadian cerdas, pandai bicara dan banyak akal.

Jari Tangan

Watak atau kepribadian seseorang dapat diketahui dari bentuk jari tangan.

Panjang; Intelegen
Pendek; Impulsif, terburu-buru, kurang intelgen.
Besar; Sunguh-sungguh, lambat berpikir.
Segi Empat (1) Berpikiran mendalam, hati-hati
Spatulat (2) Energetik,
Berpinggang Penuh pertimbangan.
Runcing (3) Impulsif, artistik, terlalu teliti.
Ramping Introver, bersifat estetik.
Tebal dan pendek Egois.
Melengkung Dengki, mudah marah.
Gembung Hedonistik.
Buku lurus (4) Cepat berpikir, impusif.
Buku berlekuk Berpikiran mendalam, bermartabat.
Buku besar Metodikal, rasional.

Gigi

Watak atau kepribadian seseorang dapat diketahui dari bentuk gigi;

Bila bentuk giginya besar dan jarang, mengisaratkan prilaku bandel, tidak suka diatur, suka membantah.

Bila bentuk giginya besar dan panjang-panjang, mengisaratkan prilaku suka iri, tidak senang melihat kelebihan orang lain.

Bila bentuk giginya besar dan rata, mengisaratkan prilaku berjiwa besar, punya inisiatif, tidak mudah putus asa.

Bila bentuk giginya jarang dan rata, mengisaratkan prilaku tidak tegas, mudah terpengaruh, senang dipuji.

Bila bentuk giginya gingsul keluar, mengisaratkan prilaku angkuh, egois, tidak memikirkan perasaan orang lain, romantis, humoris.

Bila bentuk giginya gingsul ke dalam, mengisaratkan prilaku tidak percaya diri, penakut, mudah dirayu.

Bila bentuk giginya semua menonjol ke depan, mengisaratkan prilaku pandai menarik hati orang, suka merayu senang dipuji.

Warna Wajah

Watak atau kepribadian seseorang dapat diketahui dari warna wajah kita.

Bila wajah berwarna putih, bersirat tidak pandai menyimpan perasaan dan tidak dapat memegang rahasia.

Bila wajah berwarna kemerah-merahan, bersirat punya semangat tinggi, suka bekerja keras.

Bila wajah berwarna kehitam-hitaman, bersirat cepat tersinggung, mudah putus asa.

Bila wajah berwarna putih agak kekuningan, bersirat agak dusun, agak cuek dan tidak punya pikiran tetap.

Bila wajah berwarna merah tapi halus, bersirat kurang inisiatif, tidak begitu cerdas.

Bila wajah berwarna putih kemerahan, bersirat kelakuannya tidak dapat diduga, suka nyelingkuh.

Bila wajah berwarna pucat agak berminyak, bersirat hidupnya selalu menderita, kurang bahagia.

Bentuk dan Warna Rambut

Watak atau kepribadian seseorang dapat diketahui dari bentuk dan warna rambut kita.

Bila rambut berwarna hitam sekali menyiratkan, pantang menyerah, tidak gampang putus asa dan disukai banyak orang.

Bila rambut berwarna hitam lemas menyiratkan, tulus hati namun pikirannya mudah berubah.

Bila rambut berwarna hitam berkilau menyiratkan, suka ilmu pengetahuan, sabar namun tegas.

Bila rambut berwarna hitam agak ikal menyiratkan, mudah terpengaruh, namun berotak cerdas.

Bila rambut lemas agak halus menyiratkan, mudah terserang penyakit, agak bebal.

Bila rambut berwarna agak kemerahan menyiratkan, kelakukannya tidak bisa di duga, tidak suka hidup teratur.

Bila rambut jarang menyiratkan, tidak pandai menyimpan uang, keras kepala.

Bila rambut kaku sekali menyiratkan, pantang menyerah, tegas dan berani.

Bila rambut lebat menyiratkan, pandai bicara dan banyak akal.

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Puisi cinta orang Accounting

2 Agustus 2011 at 14:38 (Tak Berkategori)

Wahai belahan jiwaku…
Debetlah cintaku di neraca hatimu
Kan ku jurnal setiap transaksi rindumu
Hingga setebal Laporan Keuanganku
Wahai kekasih hatiku…
Jadikan aku manager investasi cintamu
Kan ku hedging kasih dan sayangmu
Di setiap lembaran portofolio hatiku
Bila masa jatuh tempo tlah tiba
Jangan kau retur kenangan indah kita
Biarlah ia bersemayam di Reksadana asmara
Berkelana di antara Aktiva dan Passiva
Wahai mutiara kalbu ku
Hanya kau lah Master Budget hatiku
Inventory cintaku yang syahdu
General Ledger ku yang tak lekang ditelan waktu
Wahai bidadariku.
Rekonsiliasikanlah hatiku dan hatimu
Seimbangkanlah neraca saldo kita
Yang membalut laporan laba rugi kita
Dan cerahkanlah laporan arus kas kita selamanya.

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Next page »